Cegah Gangguan Kejiwaan Remaja dengan Self Healing melalui Terapi Energetik BCR
Remaja 18 tahun berinisial FA tewas setelah melompat dari balkon apartemen yang terletak di lantai 20. FA diduga bunuh diri. (19/8/2024)
Mahasiswa Petra Christian University (PCU), Surabaya, ditemukan tewas diduga akibat bunuh diri. Mahasiswa tersebut diduga melompat dari lantai 12 gedung kampus Q yang berada di Siwalankerto, Surabaya. (1/10/2024)
Mahasiswi Universitas Tarumanegara (Untar) melompat dari gedung parkiran lantai 4 kampus, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Mahasiswi berinisial E itu berusia 18 tahun. (4/10/2024)
Remaja 14 Tahun di Garut gantung diri akibat dilarang main game di HP. Jasad remaja putri yang tergantung itu pertama kali ditemukan oleh adik laki-lakinya yang berumur 11 tahun. (17/1/2025)
Kalimat-kalimat di atas menjadi kepala berita dari sejumlah media online. Empat kasus bunuh diri hanya dalam kurun waktu 6 bulan. Banyak? Angka tersebut belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasus yang dicatat oleh sejumlah lembaga.
Pada 2024 lalu, Pusat Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri merilis data yang menyebutkan bahwa pada kurun Januari – Juli 2023 terdapat sebanyak 640 kasus bunuh diri. Jumlah ini dikatakan meningkat sebesar 31,75 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan tahun-tahun sebelumnya, angka bunuh diri terus mengalami kenaikan.
Komunitas pencegahan bunuh diri, Into The Light Indonesia melaporkan bahwa berdasarkan catatan mereka pada November 2024, belum sampai satu tahun terdapat laporan sebanyak 826 kasus bunuh diri. Jumlah tersebut diyakini jauh lebih sedikit dibandingkan kejadian yang sesungguhnya di tengah masyarakat. Tak tanggung-tanggung, Konselor Satgas Pencegahan Primer Into The Light, Rizky Iskandar Sopian menyebutkan angka 300 persen pada ketimpangan data antara laporan yang masuk dan yang tidak tercatat.
Angka kasus terbanyak adalah kejadian bunuh diri yang menimpa remaja dan dewasa muda. Data yang dibagikan Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan – BRIN, Yurika Fauzai Wardhani dalam sebuah webinar pada November tahun lalu, dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia yang terjadi pada kurun 2012 hingga 2023, terdapat 985 kasus bunuh diri pada remaja. Angka ini mencakup sekitar 46,63% dari keseluruhan kasus.
Mengapa Usia Muda Rentan Bunuh Diri?
Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri. Berbagai persoalan khas remaja dapat menjadi pemicu stres, depresi, yang jika dibiarkan berlarut dapat berujung pada gangguan kejiwaan dan keinginan mengakhiri hidup.
Pada 2017 lalu PDSKJI Cabang Banten melakukan skrining di salah satu sekolah dengan menggunakan kuesioner SRQ-20. Dari 74 siswa yang dilibatkan, sebanyak 5,5 persen mengaku mengalami pikiran untuk mengakhiri hidupnya. Dalam wawancara lanjutan, didapatkan keterangan bahwa keinginan mengakhiri hidup tersebut muncul akibat adanya tekanan emosional dalam kehidupan mereka. Beberapa pengalaman yang dituturkan siswa adalah terkait bullying yang dilakukan teman-teman sekolah. Tekanan lainnya muncul dari lingkungan keluarga, adanya ketidakharmonisan orang tua, bahkan terjadinya kekerasan fisik dan verbal. Kompetisi meraih prestasi atau mendapatkan pengakuan dari lingkungan juga memunculkan tekanan emosi tersendiri. Peristiwa-peristiwa tak menyenangkan itu kemudian menjadi pengalaman traumatis yang dapat berkembang ke kondisi yang lebih buruk.
“Emosi tak menyenangkan dapat menjadi sampah bagi tubuh kita. Jika dibiarkan menumpuk, sampah tersebut perlahan tapi pasti akan menggerogoti hal positif dalam diri kita. Hati dipenuhi kebencian, hari-hari dibayangi ketakutan dan kecemasan, mulai menarik diri dari lingkungan sosial, prestasi di sekolah menurun, dan lain-lain,” kata founder Body Communication Resonance (BCR), dr. Dhavid Avandijaya Wartono.
Menurut dr. Dhavid, kita seringkali mengabaikan dan menganggap enteng sampah-sampah emosi dalam tubuh. Padahal dampaknya bisa sangat besar, berdampak terdapat kesehatan, mempengaruhi hubungan dengan orang lain, seperti teman, pasangan, dan keluarga, berpengaruh terhadap pekerjaan dan daya kreasi yang ujungnya dapat menjadi permasalahan ekonomi. Bahkan dapat memberikan akibat fatal bagi remaja yang masih dalam proses pencarian jati diri yang berujung pada peristiwa kematian yang tak diinginkan.
Kelola Sampah Batin dengan BCR
Sepertinya halnya sampah yang jika dibiarkan menumpuk begitu saja tanpa diolah dapat menimbulkan aroma tidak sedap dan menjadi sumber penyakit, demikian pula halnya dengan sampah batin. Himpunan pengalaman buruk dan emosi negatif mempengaruhi kesehatan mental seseorang.
“Jika masalah kesahatan mental menimpa remaja, tugas orang tua dan sekolah atau kampus untuk membantu mereka. Menjadi teman buat mereka dan membuka diri untuk berbagi. Kalau dalam perkembangannya kondisinya tak membaik, saatnya untuk minta pertolongan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater. Kita juga bisa melakukan terapi dengan pendekatan tubuh untuk melakukan self healing,” saran dr. Dhavid yang telah lama berkecimpung dalam terapi berbasis energi ini.
Dr. Dhavid telah memfasilitasi berbagai kelas dan menemukan fakta bahwa para partisipan atau peserta kelas berhasil membebaskan diri depresi dan gangguan kecemasan, sembuh dari psikosomatisnya, dan rasa percaya diri yang meningkat. Kondisi tersebut mendorong mereka untuk lebih berani memilih dan menentukan jalan terbaik bagi kehidupannya.
Body Communication Resonance (BCR) yang lahir pada Desember 2024 lalu ini merupakan gabungan dari berbagai ilmu dan pengetahuan di bidang energi, mental, dan spiritual. Pendekatan terapi BCR adalah dengan melihat tubuh sebagai energetic being. Caranya adalah dengan memberikan sentuhan di 144 titik chakra dan 20 meridien yang memengaruhi keseimbangan serta kesehatan.
“Melalui pengaktifan simpul energi baik meridian, cakra, maupun elemen tubuh, tubuh kita dimampukan untuk mengembangkan kemampuan self healing. Tubuh yang pulih dapat dengan lebih mudah membuka diri terhadap berbagai posibilitas, lebih produktif, bahagia, dan penuh makna. Kita juga bisa tetap enjoy menjalani hidup meski dihadapkan pada berbagai persoalan,” ungkap dr. Dhavid.
Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh dan mendalami BCR, kelas terdekat akan dilangsungkan pada 14-17 April 2025 di Jakarta. Untuk informasi dan pendaftaran bisa menghubungi Tim BCR (link: https://bit.ly/accessdrdhavid). Temukan aneka artikel tentang BCR serta agenda kelas berikutnya di situs Body Communication Resonance (link: https://bit.ly/bcrdrdhavid).


