Perceiving Block adalah hambatan persepsi tubuh dan kesadaran terhadap sinyal, informasi, atau realitas yang sedang terjadi di dalam tubuh maupun di luar diri. Ini adalah kondisi ketika seseorang tidak bersedia menangkap, membaca, atau mengenali dengan jernih apa yang sebenarnya sedang terjadi pada sistem tubuh, emosi, atau energi karena disaring oleh trauma, bias, sistem kepercayaan lama, atau dominasi judgement.
Dalam pendekatan Body Communication Resonance, persepsi bukan hanya soal pikiran atau pengetahuan mental. Persepsi adalah frekuensi dan resonansi yang ditangkap oleh tubuh.
Apa itu BCR?
Body Communication Resonance atau BCR adalah metode yang membantu seseorang mengenali sinyal tubuh—seperti indra ke 6, ketegangan, getaran halus, atau perubahan napas—sebagai pesan tentang kondisi emosionalnya. Dengan kata lain, tubuh kita sebenarnya “berbicara”, dan melalui BCR, kita belajar mendengarkan.
Jika tubuh kita seperti radar, maka Perceiving Block membuat radar ini:
- Rusak
- Tidak bisa menangkap sinyal halus,
- Atau hanya menangkap apa yang “ingin dilihat” oleh trauma , judgement dan ego.
CIRI-CIRI PERCEIVING BLOCK
1. Tubuh terasa “mati rasa” (numb) terhadap sensasi.
2. Tidak sadar terhadap respons tubuh saat emosi muncul.
3. Merasa “tidak nyambung” antara pikiran dan tubuh.
4. Mengabaikan sinyal tubuh karena terlalu sibuk di kepala.
5. Memproyeksikan luka lama sebagai “kebenaran saat ini.”
KISAH KLIEN BCR:
Kisah Klien 1: “Saya Sudah Ikhlas, Tapi Badan Tetap Tegang”
Seorang wanita datang dengan keluhan sering tegang di tengkuk dan migrain, meski ia berkata:
“Saya sudah memaafkan semuanya, saya sudah move on kok.”
Namun saat proses body awareness, tubuhnya menunjukkan:
* Ketegangan di diafragma saat menyebut nama ibunya,
* Getaran halus di tangan kanan saat berbicara tentang masa kecil.
Diagnosis Energetik: Tubuh masih menyimpan getaran penolakan (unresolved grief), tetapi persepsi pikirannya mem-filter realitas tubuh dengan narasi spiritual yang belum sinkron.
Inilah Perceiving Block.
Kisah Klien 2: “Saya Nggak Ngerasa Marah, Tapi Perut Saya Sakit”
Seorang pria dengan sakit lambung kronis merasa tidak pernah marah.
Tapi saat sesi BCR, muncul tangisan spontan dan kalimat:
“Kenapa papa nggak pernah denger saya?”
Tubuh menangkap luka, tapi pikirannya membungkam persepsi.
Ini juga bentuk Perceiving Block: emosi ditekan begitu dalam hingga tubuh yang bicara.
AKAR PERCEIVING BLOCK
1. Trauma masa lalu: tubuh belajar “mematikan radar” agar tidak terlalu sakit.
2. Ego defense: persepsi disaring untuk menjaga identitas.
3. Budaya represi: dilarang menangis, marah, atau mengeluh.
4. Overthinking: hidup di kepala, kehilangan grounding tubuh.
5. judgement akan kisah atau kejadian yg sudah berlalu
MELEPASKAN PERCEIVING BLOCK
Dalam BCR, kita tidak hanya menyadari Perceiving Block, tapi juga mengurai lapisan resonansinya.
Melepaskan Itu Bisa Dilatih—Sendiri Maupun Berdua.
Latihan Sendiri.
Latihan REGIS: Berpasangan dengan sesama praktisi.
Regis adalah Receiving and Gifting session, Latihan bersama praktisi BCR untuk merawat diri sendiri dengan cara saling memberi sesi dan menerima sessi antar sesama praktisi.
KESIMPULAN
“Perceiving Block bukan kesalahan. Ia adalah bentuk tubuh melindungi kita. Tapi jika kita ingin pulih, kita harus belajar mendengarkan kembali.”
Jika kamu merasa sering bingung dengan sinyal tubuh, tidak tahu kenapa lelah atau tiba-tiba cemas, bisa jadi bukan karena salah strategi — tapi karena persepsi tubuhmu masih terkunci.
Untuk mengenal lebih jauh tentang sesi atau kelas BCR: daftar promotor dan informasi lengkap bisa ditemukan di tautan ini : http://bit.ly/bcrdrdhavid
Jika ada pertanyaan, kami siap menemani perjalanan sadarmu. Tubuhmu tahu lebih banyak dari yang kamu kira.


